15
Aug
08

Jakarta Underkompor, by. Arham Kendari

***

Awalnya tertarik sama buku ini karena banyak rekomendasi yang bagus2 dari milis buku. Pas liat bukunya, covernya kocak. Foto si penulis sendiri cuma pake baju dalam n angkat2 kompor. Maksud hati sh pengen niru2 patung pancoran tapi koc malah jadi terkesan narsis. Begitu dibaca ternyata ceritanya ringan, kocak, menghibur n merakyat.. Tapi sempat bertanya2 apa mungkin semua yang ditulis itu benar2 kisahnya si arham? Kayanya ada yang dibuat2 deh biar lebih lucu. Ga masyalah sih, sah2 aja! Yang penting menghibur.. Buku ini wajib dibaca, lucu abis..

Ada kutipan puisi yang bikin gue ketawa-ketiwi sendiri. Puisi ini dibuat saat si Arham baru kerja 1minggu di kerjaan barunya di Jakarta tmn2nya todong dia untuk traktir kalo uda gajian pertama bulan depan.

PUISI GAK SOPAN

Baru juga seminggu ku dapat kerjaan

Teman-teman udah pada kreatif buat schedule traktiran

Dari Jakarta Utara hingga Jakarta Selatan

Namun apa daya, tak kuasa ku melawan

Bingung ku memikirkan

Gimana dapatkan tambahan modal secara instan

Apakah jadi preman Tanah Abang?

Ataukah jual diri di Taman Lawang?

Tanggal muda bulan depan

Haruskah ku minta perlindungan ke Komnas HAM

Mungkinkah ku mabur ke Pulau Nusakambangan?

Ataukah invisible for everyone?

Oh, Pak Sutiyoso yang ganteng dan rupawan

Mengapa kotamu begitu kejam

Mengapa budaya rokok di tempat umum dilarang?

Tetapi budaya traktir gaji pertama dilestarikan?

Oh, Pak SBY yang macho nan jantan

Tak bisakah kau buat kepres dan undang-undang?

Yang melindungi keselamatan warga pendatang?

Agar terbebaskan dari traktiran yang seolah jadi kewajiban?

Oh, teman-teman yang berperi kemanusiaan dan berperikeadilan

Mengertilah diriku yang hanya karyawan kecilan

Kuharap gajian nanti ga minta macam2

Kecuali satu diantara kalian bersedia ku jadikan istri simpanan

Oh, Emak nunjauh di kampung halaman

Maafkan jika bulan depan gak ada kiriman yang kujanjikan

Terserahlah jika kau anggap anakmu ini Malin Kundang

Asal jangan kau kutuk diriku jadi patung Pancoran

Oh, para pembaca budiman

Maafkan jika puisi ini gak sopan

Karena aku bukanlah ponakan Kahlil Gibran

Hanya anak perantauan yang konsisten mempertahankan ketampanan.

Comment gue: Narsis abis…….


1 Response to “Jakarta Underkompor, by. Arham Kendari”


  1. 11 September 2008 at 03:50

    wakakaka keren-keren. Sanjaknya bener2 terjaga. Isinya juga konyol. Wah kayaknya lucu juga nih buku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: